Home Sekitar Kita Pendidikan yang Adil di mulai dari SLB, Belajar Memanusiakan Manusia

Pendidikan yang Adil di mulai dari SLB, Belajar Memanusiakan Manusia

63
0
SHARE
Pendidikan yang Adil di mulai dari SLB, Belajar Memanusiakan Manusia

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang kerap diukur dengan angka, nilai, dan peringkat, Sekolah Luar Biasa (SLB) justru menghadirkan makna pendidikan yang paling hakiki yaitu keadilan dan kemanusiaan. Dilatar belakangi oleh realitas tersebut, kami melakukan kegiatan observasi ke SLB Laskar Putra Mandiri Darma sebagai bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Inklusif dosen pengampu oleh Ibu Okky Ayu Setyowati, M.Pd. Kegiatan observasi ini dilakukan pada hari Rabu, 17 Desember 2025. 

SLB Laskar Putra Mandiri Darma membuka mata kita bahwa pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat memahami pelajaran, melainkan tentang bagaimana setiap anak diberi kesempatan berkembang sesuai dengan kemampuannya.

Selama ini, sistem pendidikan sering kali memaksakan standar yang seragam. Anak yang mampu mengikuti ritme dianggap berhasil, sementara yang tertinggal kerap dilabeli gagal. Padahal, tidak semua anak dilahirkan dengan kondisi, kemampuan, dan kebutuhan yang sama. Di sinilah peran SLB menjadi sangat penting, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang kerap terpinggirkan dalam sistem pendidikan arus utama. SLB Laskar Putra Mandiri Darma menunjukkan praktik pendidikan yang berangkat dari pemahaman terhadap individu. Dalam kesempatan tersebut Bapak Kiki Rizki Ismail, S.Kom menyatakan proses pembelajaran diawali dengan asesmen awal untuk mengenali potensi dan hambatan peserta didik. Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dimulai dari kurikulum semata, melainkan dari manusia yang akan dididik. Peserta didik tidak dikelompokkan berdasarkan jenjang kelas, tetapi berdasarkan kemampuan fungsional yang dimiliki. Dengan demikian, setiap anak belajar pada ruang yang sesuai dengan kebutuhannya.

Bapak Ade Firman Santoni, S.Pd. mengatakan bahwa bagi peserta didik tunagrahita, pendidikan tidak dipaksakan untuk mengejar capaian akademik yang sering kali tidak relevan. Fokus pembelajaran diarahkan pada kemandirian dan keterampilan hidup, seperti aktivitas sehari-hari dan keterampilan fungsional yang berguna dalam kehidupan nyata. Ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak selalu tercermin dalam nilai rapor, melainkan dalam kemampuan seseorang menjalani hidup secara mandiri dan bermartabat. 

Sementara itu, layanan bagi peserta didik tunadaksa menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi kecerdasan intelektual. Dengan penyesuaian media, posisi belajar, dan metode evaluasi, peserta didik tetap dapat mengembangkan potensi berpikirnya secara optimal. Adapun bagi peserta didik tunarungu, penggunaan komunikasi visual dan komunikasi total menjadi jembatan penting agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif dan bermakna.

Pengalaman di SLB ini seharusnya menjadi cermin bagi dunia pendidikan secara umum. Pendidikan yang adil bukan berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua anak, melainkan memberikan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Inilah esensi keadilan dalam pendidikan yang sering kali terlupakan. Pada akhirnya, SLB Laskar Putra Mandiri Darma mengajarkan satu hal penting kepada kita semua yaitu pendidikan yang baik tidak selalu ditentukan oleh megahnya fasilitas, tetapi oleh kesungguhan para pendidik dalam memanusiakan manusia. Sudah sepatutnya negara dan masyarakat memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus, bukan sebagai bentuk belas kasihan, melainkan sebagai wujud nyata keadilan sosial.

Penulis: Nenden Handayani, Ela Fuji Laela, Dewi Yulianti Mahasiswa PGSD Universitas Al Ihya Kuningan